Caleg DPRD Sumut Ini Punya Program Sampah Jadi Beras dan Emas

Berita, Peristiwa160 Dilihat
banner 468x60

MEDAN –  Calon Legislatif DPRD Sumatera Utara Dapil Sumut2 Medan B dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP0 Rahmat Hidayat Matondang membeli sampah minuman kemasan plastik yang dikumpulkan masyarakat di daerah dapilnya.

“Program ini merupakan program kerja saya dengan masyarakat dalam upaya memanfaatkan sampah minuman kemasan dari plastik, yang dapat dimanfaatkan sebagai dan memiliki nilai. Intinya adalah bukan mencari nilainya, tetapi memberi pendidikan kepada mayarakat mengenai pentingnya lingkungan hidup”, ungkap Rahmat Hidayat Matondang, Selasa (23/1/2024).

banner 336x280

Menurutnya sampah memiliki nilai ekonomis dan manfaat yang besar bagi kehidupan masyarakat, sehingga dalam prosesnya masyarakat dijaring dalam program yang dikerjakan Rahmat Hidayat Matondang Center (RHM Center), bekerja sama dengan Bank Sampah New Normal dan Ikatan Pekerja Masyarakat Kota Medan (IPSM).

Rahmat mengatakan bila dilihat dalam sehari sampah rumah tangga yang dihasilkan masyarakat kota Medan sangat besar, mencapai 2000 ribu ton per harinya. Sehingga diperlukan pemilahan sampah organik dan non organik agar dapat termanfaatkan dengan baik.

“Alhamdulillah dalam program ini saya banyak didukung masyarakat di dapil pemilihan saya, dan kawan-kawan relawan dari Bank Sampah serta rekan rekan dari IPSM. Metode programnya saya dan tim menjemput sampah yang dikumpulkan oleh masyarakat, yang tergabung dalam kelompok bank sampah setiap lingkungan masyarakat, dan menyerahkannya ke Bank Sampah Neo Normal.

Sampah kemudian ditimbang, untuk mendapatkan nilai ekonomis masyarakat untuk selanjutnya dikumpulkan dan dalam kurun waktu satu bulan dapat diambil hasilnya dalam bentuk uang, beras, maupun emas, sesuai permintaan masyarakat ataupun nasabah bank sampah”, sebut Rahmat Hidayat.

Sementara itu Direktur Bank Sampah New Normal Yasra Al-Fariza mengatakan dari 2.000 ribu ton sampah di Kota Medan, sekitar 800 ton di antaranya berakhir di tempat pembuangan akhir sampah. Kemudian lebih dari 1.000-1.200 ton sisanya rawan tidak tertangani. Keberadaan bank sampah di tengah masyarakat diharapkan meningkatkan tradisi memilah dan mengelola sejak dari rumah.

”Dari 2.000 ton sampah per hari, baru sekitar 13 persen yang dipilah dan dikelola sehingga tidak berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA). Padahal, tahun 2025 ditargetkan 30 persen sampah harus dikelola untuk mengurangi sampah di TPA,” katanya.

Yasra mengatakan, salah satu cara meningkatkan jumlah sampah yang dipilah dan dikelola sejak dari rumah adalah memperbanyak bank sampah. Namun, keberadaannya masih sangat minim di kota Medan, dan kita butuh dukungan dari sejumlah pihak termasuk salah satunya yang dilakukan oleh Caleg DPRD Sumut Rahmat Hidayat Matondang.

Hal serupa juga diungkapkan Ketua IPSM Kota Medan Dedy Armaya, menurutnya sudah saatnya pemerintah mendukung program pemilihan Bank Sampah seperti dijalankan oleh Bank Sampah Neo Normal dan RHM Center. Selain memberikan dampak lingkungan yang baik di masyarakat, sampah plastik juga dapat dikelola dan memiliki nilai.

“Sebagai salah satu organisasi pekerja sosial mitra pemerintah kota Medan yang dibentuk oleh Kementerian Sosial, maka saya akan coba melakukan hal yang sama dan menjadi program kerja para pengurus IPSM kota Medan, dengan tujuan memberikan pendidikan dan motivasi kepada masyarakat bahwa sampah dapat dikelola dan memberi nilai ekonomis”, tuturnya. (RED/WIN)

 

 

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *